Skip to content

Penulis : Ahmad Rizal Zakky Ghufron

PENDAHULUAN

Saat ini, instansi pemerintah tengah bertransformasi menuju Human Capital Management, di mana pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) ditargetkan untuk menciptakan pelayanan prima dan mencapai Indikator Kinerja Utama (Mannion & Davies, 2018). Di BKK Biak, hal ini diwujudkan lewat penerapan budaya kerja SYOWI.  Reformasi internal ini berakar pada tata nilai BerAKHLAK dari Kemenpan-RB—yang meliputi Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif—guna mencetak ASN yang profesional. Langkah ini juga selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto agar setiap ASN memprioritaskan pengabdian kepada publik, bukan bertindak layaknya pejabat yang minta dilayani. Selain itu, transformasi ini sejalan dengan tiga pilar Kementerian Kesehatan, yakni Eksekusi Efektif, Cara Kerja Baru, dan Pelayanan Prima, yang menitikberatkan pada pembelajaran berkesinambungan sebagai keunggulan organisasi (Senge, 1990). 

Sebagai langkah konkret, BKK Biak meluncurkan program K-BIAK (Kamis Berbagi Informasi, Aktualisasi dan Komunikasi) setiap hari Kamis agar para pegawai dapat memperbarui ilmu epidemiologi dan berbagi pengalaman. Walaupun perubahan sering kali menimbulkan resistensi (Kuipers dkk., 2014), pengelolaan yang baik dari BKK Biak berhasil membuat aparaturnya tangguh dalam menangani penyakit lingkungan.  Langkah penanganan penyakit ini sekaligus memperkuat peran Puskesmas dalam skema Integrasi Layanan Primer (ILP). BKK bertindak sebagai penjaga batas wilayah, sementara Puskesmas fokus pada komunitas. Apabila BKK menemukan risiko vektor nyamuk di sekitar pemukiman, kolaborasi dengan Puskesmas langsung dilakukan. 

Kebutuhan akan intervensi ini didorong oleh penurunan kualitas sanitasi di wilayah kerja. Berdasarkan data BPS Provinsi Papua (2026), akses sanitasi layak di Waropen turun dari 83,29% (2022) menjadi 76,30% (2023), dan di Biak Numfor turun dari 93,89% (2024) menjadi 91,09%. Buruknya sanitasi memunculkan sarang baru bagi nyamuk Anopheles sp., yang berujung pada tingginya angka malaria.  Sebagai respons, pada 2025 BKK Biak dan Puskesmas Paray melakukan penyemprotan (IRS) di beberapa titik:

Tabel 1: Hasil pengendalalian faktor risiko penyakit malaria

No.Wilayah KerjaSparcanJml Pestisida (ltr)Jml Bensin (ltr)Keterangan
1.Pelabuhan Laut Khusus Mokmer333,2860 rumah
2.Kampung Mokmer33 60 rumah
3.Kampung Manggadisapi33 60 rumah

Sumber: Penulis (2026)

            Data Kementerian Kesehatan (2025) mencatat Puskesmas Waren selalu menemukan 10 hingga 42 kasus malaria setiap minggunya. Menghadapi hal ini, pada tahun 2026, BKK Biak yang berpegang teguh pada budaya SYOWI bersinergi dengan lintas sektor untuk melakukan uji resistensi insektisida terhadap Anopheles SP, berdasarkan instruksi Direktur Penyakit Menular. Hasilnya, dari 596 nyamuk Anopheles farauti yang diuji dengan Deltametrin 0,03%, tingkat kematiannya mencapai 100% (Woopari & Kristianto, 2026). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi budaya SYOWI tersebut dalam perbaikan lingkungan.

METODE

Penelitian kualitatif deskriptif ini digunakan untuk melihat fenomena sosial secara natural (Moleong, 2005). Mengambil latar implementasi SYOWI di UPT Puskesmas Waren tahun 2026, analisisnya bersandar pada teori Nilai Publik dari Twizeyimana & Andersson (2019). Pemilihan subjek menggunakan purposive sampling (Sugiyono, 2008), yang melibatkan Plt. Kepala Puskesmas Waren dan Entomolog BKK Biak, dengan pengumpulan data via wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori Nilai Publik yang digunakan mencakup:

  1. Efisiensi Birokrasi: Mengubah proses yang kaku menjadi lincah dan cepat melalui integrasi data. 
  2. Penguatan Integritas dan Kepercayaan: Memastikan institusi pemerintah dinilai adil dan jujur oleh masyarakat. 
  3. Inklusi Prosedural: Membuka ruang partisipasi bagi semua pihak dalam proses layanan dan pengambilan keputusan publik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Budaya kerja SYOWI (Semangat, Yakin, Objektif, Wawasan, Integritas) terbukti bertransformasi menjadi penggerak utama kinerja di lapangan berdasarkan evaluasi internal dan eksternal tahun 2026. 

  • Semangat: Mewakili ketangguhan petugas. Evaluasi menunjukkan kinerja Sangat Baik (53,97% internal, 86,7% eksternal). Saat tim tidak menemukan nyamuk di Kampung Sawara Jaya akibat suksesnya program manajemen larva setempat, mereka tidak menyerah, melainkan langsung berpindah ke Kampung Sarafambai untuk memastikan target penangkapan tetap terpenuhi. 
    • Yakin: Tumbuh berkat peningkatan kompetensi teknis lewat K-BIAK. Tercatat 100% pegawai BKK Biak merasa sangat yakin saat bertugas, dan 83,3% publik percaya pada kapabilitas petugas. Keyakinan ini terbukti saat tim sukses mengidentifikasi spesies nyamuk secara mikroskopis dan melakukan uji kerentanan WHO dengan presisi.
    • Objektif: Menjadi jantung ilmu epidemiologi agar tak terjadi salah kebijakan. Nilai ini diapresiasi Sangat Baik oleh eksternal (86,7%). Dalam uji knock-down nyamuk, tim mematuhi prosedur secara ketat hingga mencapai angka kematian 100%.

Tabel 3: Hasil Penangkapan Nyamuk

NoTipe HabitatSpesiesJumlahSpesiesJumlah
1Genangan / kubanganAnopheles farauti596Culex quinquefasciatus16
2Selokan dan saluran airAnopheles farauti5Culex vishnui8
3Bekas tapak kendaraanMansonia uniformis5
4Sumur tidak terpakaiAnopheles farauti2  

Sumber: Penulis (2026)

Entomolog BKK Biak, Kristianto, SKM, menegaskan bahwa mereka menolak segala bentuk manipulasi data demi mengejar target awal, dan lebih memilih mencari titik baru demi menjaga validitas angka kematian vektor.

  • Wawasan: Dinilai Sangat Baik oleh eksternal (86,7%). Secara prosedural, tim merangkul Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan aparat TNI untuk mengamankan survei malam hari. Plt. Kepala Puskesmas Waren memuji pendekatan lintas sektor ini karena hasilnya bisa langsung digunakan sebagai dasar kebijakan kabupaten.
    • Integritas: BKK Biak dinilai Sangat Baik (83,3%) dalam hal kejujuran. Kedisiplinan pegawai juga semakin membaik di Semester II, dengan Indeks Persepsi Anti Korupsi mencapai 96,73, menandakan instansi bersih dari pungli. Laporan uji mortalitas 100% pada Anopheles farauti dilaporkan secara jujur apa adanya (menggunakan insektisida Deltametrin 0,03%, Bendiocarb 0,05%, Permethrin 0,25%, dan Malathion 5%), guna mencegah pemerintah membuang anggaran daerah untuk pestisida yang belum diperlukan.

Berikut adalah rumusan matriks yang menggambarkan alur logis transformasi budaya kerja SYOWI terhadap terciptanya nilai manfaat bagi publik:

Tabel 5: Matriks Nilai Publik pada Budaya Kerja SYOWI

Budaya Kerja BKK BiakPenciptaan Nilai Publik (Public Value)
SemangatKelincahan berpindah lokasi menghasilkan Efektivitas Program.
YakinEksekusi teknis presisi memperkuat Kepercayaan Institusional.
ObjektifKeluaran rekomendasi evidence-based yang berbasis sains menciptakan Efisiensi Fiskal dalam pengadaan insektisida baru.
WawasanKolaborasi dengan TNI, Dinas Kesehatan, Komunitas, Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Papua mewujudkan Inklusi Prosedural yang terintegrasi (whole-of-government approach).
IntegritasKetaatan pada prosedur menjaga Akuntabilitas & Keamanan intervensi ke depan.

Sumber: Penulis (2026)

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Dampak Kultural yang Nyata: SYOWI terbukti menggerakkan kinerja lapangan yang diakui secara internal dan eksternal. 
  2. Integritas Metodologi: Petugas berpegang teguh pada prosedur saintifik tanpa manipulasi, membuktikan kematian absolut (100%) nyamuk An. farauti terhadap insektisida uji. 
  3. Nilai Publik via Kolaborasi: Keterlibatan Puskesmas, Dinkes, dan TNI membuktikan bahwa penyelesaian masalah kesehatan butuh pendekatan menyeluruh (whole-of-government). 
  4. Kebijakan Berbasis Bukti: Data lapangan yang jujur menyelamatkan anggaran negara dari pengadaan kimia yang tidak perlu.

Referensi

Asemahagn, M. A. (2022). Knowledge sharing practice and associated factors among healthcare professionals in public health facilities. BMC Health Services Research, 22(1), 760. https://doi.org/10.1186/s12913-022-08151-5

Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An Integrative Framework for Collaborative Governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1–29. https://doi.org/10.1093/jopart/mur011

Hemingway, J., Ranson, H., Magill, A., Kolaczinski, J., Fornadel, C., Gimnig, J., Coetzee, M., Simard, F., Roch, D. K., Hinzoumbe, C. K., Pickett, J., Schellenberg, D., Gething, P., Hoppé, M., & Hamon, N. (2016). Averting a malaria disaster: Will insecticide resistance derail malaria control? The Lancet, 387(10029), 1785–1788. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)00417-1

Kuipers, B. S., Higgs, M., Kickert, W., Tummers, L., Grandia, J., & Van Der Voet, J. (2014). THE MANAGEMENT OF CHANGE IN PUBLIC ORGANIZATIONS: A LITERATURE REVIEW. Public Administration, 92(1), 1–20. https://doi.org/10.1111/padm.12040

Mannion, R., & Davies, H. (2018). Understanding organisational culture for healthcare quality improvement. BMJ, k4907. https://doi.org/10.1136/bmj.k4907

Senge, P. M. (1990). The fifth discipline: The art and practice of the learning organization (1. ed.). Doubleday/Currency.

Sugiyono. (2008). Metode penelitian pendidikan:(pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R & D). Alfabeta.

Twizeyimana, J. D., & Andersson, A. (2019). The public value of E-Government – A literature review. Government Information Quarterly, 36(2), 167–178. https://doi.org/10.1016/j.govinf.2018.12.001 Woopari, B. I. S., & Kristianto. (2026). LAPORAN KEGIATAN SURVEI MONITORING RESISTENSI INSEKTISIDA  MALARIA DI KABUPATEN WAROPEN, PROVINSI PAPUA 2026.