Skip to content

  • Beranda
  • Profil
    • Visi, Misi dan Sasaran
    • Struktur Organisasi
    • Tugas & Fungsi
    • Wilayah Kerja
      • Kantor Induk
      • Bandara Frans Kaisiepo Biak
      • Pelabuhan Laut Biak
      • Bandara Mozes Kilangin Mimika
      • Pelabuhan Laut Amamapare
      • Pelabuhan Laut Pomako
      • Pelabuhan Laut Nabire
      • Pelabuhan Laut Serui
      • Pelabuhan Laut Waropen
  • Pelayanan
    • Alur Pelayanan
    • Standar Pelayanan
      • Vaksinasi Covid-19
      • Vaksinasi Meningitis
      • Surat Keterangan Sehat
      • Surat Keterangan Layak Terbang
      • Pelayanan Ambulans
      • Surat Izin Angkut Jenazah
      • Surat Izin Angkut Orang Sakit
      • Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga
      • Penerbitan Surat Izin Kesehatan Berlayar (PHQC)
      • Sertifikat Sanitasi Kapal (SSCEC)
      • Sertifikat Pemeriksaan Kapal dari Luar Negeri (COP)
      • Sertifikat Pemeriksaan Obat-Obatan dan Alat Kesehatan Kapal
      • Sertifikat Pemeriksaan Pesawat dari Luar Negeri (GENDEC)
      • Buku Kesehatan
    • SOP
  • PPID
    • SK PPID
    • SOP PPID
    • Informasi Yang Dipublikasikan
    • Informasi Yang Dikecualikan
    • Tata Cara Permohonan Informasi
    • Formulir Permohonan Informasi
    • Formulir Pengajuan Keberatan
    • Tata Cara Penyelesaian Sengketa Ke Komisi Informasi
    • Sarana Layanan Offline PPID
    • Laporan PPID
    • Unduh
  • K-BIAK
    • Pembelajaran
  • Berita
  • Artikel
    • Mengoptimalkan Kinerja Organisasi dengan Prinsip Manajemen
    • Pentingnya Pembangunan Zona Integritas (ZI) Wilayah Bebas Dari Korupsi (WBK) Dan Wilayah birokrasi bersih dan Melayani (WBBM)
    • The Man Behind The Gun for Quality Service
    • Bagaimana kita menggunakan prinsip “Berakhlak” dalam bekerja?
  • Aplikasi
  • Hubungi Kami

Bagaimana kita menggunakan prinsip “Berakhlak” dalam bekerja?

Penulis    : dr. Junarto Butar-Butar

Jabatan   : Dokter ahli Pertama

           

Saya adalah CPNS yang baru bergabung di kantor BKK Biak sekitar 2 bulan. Sebelumnya saya juga pernah bekerja di Biak pada tahun 2021. Ada istilah: BIAK (bila ingat akan kembali), mungkin seperti itulah yang saya alami. Saya sebelumnya bekerja di suatu puskesmas di pelosok Merauke sebagai honorer. Tentu saja pengalaman sebagai honorer jauh berbeda dengan PNS. Sebagai honorer, yang dipikirkan hanyalah fungsi saya sebagai dokter dengan mengutamakan pelayanan. Namun sebagai PNS, ada tolak ukur yang jelas mengenai budaya kerja dan capaian kinerja. Budaya kerja yang dimaksud adalah budaya kerja seorang ASN yaitu “Berakhlak”, yang merupakan singkatan dari Berorientasi pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Tentu saja tidak mudah untuk mengaplikasikan setiap prinsip Berakhlak dalam pekerjaan. Namun, dengan terus membiasakan diri melalui perubahan-perubahan kecil yang konsisten, maka saya rasa budaya kerja yang baru ini pasti bisa dilakukan.

“Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Itulah pepatah yang diajarkan guru saya semasa di sekolah dasar dulu. Prinsip ini digunakan untuk memulai perubahan sedikit demi sedikit dengan konsisten. Saya teringat akan sebuah buku dengan judul Atomic Habits oleh James Clear tahun 2018. Buku ini menceritakan bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik perlahan-lahan. Satu prinsip yang saya ingat dalam buku tersebut ialah untuk bisa terus konsisten dalam melakukan suatu kebiasaan baik, maka kebiasaan itu harus dibuat mudah (Make it easy). Misalnya begini, kita bekerja di kantor selama 8 jam sehari dan jarang minum air putih. Alasannya karena “mager” atau terlupa karena tempat galon jauh dari meja kerja. Kita mau mengubah kebiasaan dengan rutin minum air putih sebanyak 2 liter sehari. Kita dapat membuat perubahan kecil yang memudahkan kita, misalnya dengan menaruh gelas dan botol air minum berukuran 1,5 liter di meja kerja kita. Dengan asumsi, 1,5 liter bisa kita minum di jam kerja dan sisanya 0,5 liter bisa kita minum di rumah saat makan dan saat bangun pagi. Dengan adanya kemudahan, maka kebiasaan baru ini dapat dilakukan secara konsisten.

            Budaya kerja Berakhlak memang menjadi kebiasaan baru buat saya yang tidak mudah dilakukan. Pada prinsip berorientasi pelayanan, memang menjadi poin pertama yang harus dilakukan karena pelayanan kepada masyarakat adalah hal yang utama dalam tugas kami di bidang karantina kesehatan. Saya yakin, masyarakat akan puas terhadap pelayanan apabila tujuan mereka datang dapat tercapai, pemberi layanan berkomunikasi dengan ramah, dan semua proses pelayanan dilakukan dengan cara “dipermudah”.

            Prinsip yang kedua adalah akuntabel. Prinsip akuntabel berbicara tentang tanggung jawab, dapat diandalkan, dan dapat dipercaya. Seringkali kepercayaan yang diberikan orang lain sifatnya begitu rapuh, sehingga bila tidak dijaga, dengan adanya kesalahan sedikit saja, dapat membuat kecewa orang lain dan merusak akuntabilitas kita. Untuk terus bisa dipercaya, maka kita harus membiasakan diri melakukan tugas yang diberikan pimpinan sesuai yang diharapkan, dan juga menepati janji yang kita lakukan kepada masyarakat dalam hal pelayanan.

            Selanjutnya adalah kompeten. Ada istilah bahwa semua ilmu bisa dipelajari, namun karakter lebih sulit diubah. Kompetensi seseorang sebenarnya bisa ditingkatkan dengan belajar dan terus belajar. Kita bisa belajar dari banyak hal, mulai dari buku, media elektronik, pengalaman orang lain, bahkan pengalaman diri sendiri.

Kemudian ada prinsip harmonis. Kita tau bahwa setiap orang mempunyai karakter yang berbeda-beda, ada orang yang sulit diajak bekerja sama, ada yang tipikal pemarah, bahkan istilah terbaru adalah “toxic person”. Tantangan kita adalah bagaimana menciptakan suasana harmonis di kantor dengan setiap rekan kerja kita. Tentu ini tidak mudah, mungkin kita bisa mulai dengan diri kita sendiri, selalu teringat bahwa menghadapi konflik dilakukan dengan kepala dingin, bahkan sebisa mungkin mencegah terjadinya konflik. Mungkin dengan sering kita mengadakan kegiatan-kegiatan luar kantor yang sifatnya kebersamaan, maka akan terjalin suasana harmonis di tempat kerja kita.

            Lalu prinsip berikutnya adalah loyal. Prinsip ini diperlukan untuk menjamin adanya visi yang sama mulai dari pimpinan tertinggi hingga pegawai paling bawah. Sikap loyal adalah cara agar apa yang dipikirkan oleh seorang pemimpin, hal itu juga yang dipikirkan oleh bawahannya, tidak boleh ada perbedaan visi. Sepanjang kehendak pemimpin tidak melanggar ketentuan yang berlaku. Loyalitas yang utama adalah kepada Pancasila, UUD 1945, Pemerintah yang sah, lalu kepada menjaga nama baik ASN, pimpinan, pimpinan instansi, negara, dan menjaga rahasia jabatan dan negara.

            Selanjutnya ada adaptif. Kita mungkin pernah mendengar pepatah oleh Charles Darwin: “Bukan spesies terkuat yang bertahan hidup, bukan pula yang tercerdas yang bertahan hidup. Melainkan spesies yang paling adaptif terhadap perubahan”. Prinsip ini juga berlaku dalam dunia kerja. Bila kita tidak menyesuaikan dengan perubahan, maka kita sendiri yang akan tertinggal. Kita mungkin bisa saja tetap mempertahankan cara lama yang sudah kita anggap berhasil. Namun harus kita ingat bahwa teknologi sebenarnya dibuat karena cara lama itu sendiri kurang efisien, sehingga bila kita menguasai cara baru, maka pekerjaan kita dapat diselesaikan dengan mudah.

            Yang terakhir adalah kolaboratif. Budaya kerja kolaboratif seringkali banyak memberi manfaat dalam birokrasi, terutama untuk mendapatkan ide-ide baru yang berasal dari orang-orang dengan bidang keahlian yang berbeda. Dengan menggunakan banyak sudut pandang, akan memperluas lapang pandang kita tentang suatu masalah dan memperoleh lebih banyak pilihan solusi. Tantangan kita seringkali adalah bagaimana menjalin kolaborasi dengan orang baru, baik di kantor maupun di instansi lain. Saya rasa dengan berkomunikasi yang baik, profesional dan disiplin waktu, serta menepati janji adalah cara mendapat kepercayaan dari orang lain sehingga kolaborasi akan mudah dilakukan. Ketujuh prinsip budaya kerja di atas disusun oleh KemenPAN-RB dan diluncurkan Presiden Jokowi tahun 2021. Seringkali “budaya” merupakan hal yang sulit dilakukan terutama karena dibutuhkan konsistensi. Untuk memperoleh suatu budaya kerja, kita sebagai pekerja harus mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Dengan mengacu pada buku Atomic Habits tadi, untuk mengubah suatu kebiasaan lama, kita bisa menggunakan 4 langkah, yaitu buat tujuan yang jelas (obvious), buatlah menjadi menarik (attractive), buatlah kemudahan (easy), dan ciptakan rasa puas (satisfying). Dari keempat langkah ini, satu yang saya ambil contohnya tadi adalah kemudahan (easy). Karena dengan kemudahan, semua bisa dilakukan. Pembaca dapat belajar secara detail mengenai 4 langkah Atomic Habits untuk mengubah kebiasaan sehingga budaya kerja “BerAKHLAK

Share this:

  • Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Click to share on X (Opens in new window) X

Like this:

Like Loading...

Layanan Pengaduan

Tanya Kitorang

Pelayanan Masyarakat

Informasi Pelayanan Publik

Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Biak 2025

Powered by PressBook Green WordPress theme

%d